Kamis, 30 Juli 2009

MAKALAH METODOLOGI PENELITIAN

KONSEP DASAR METODE PENELITIAN DESKRIPTIF

Oleh : Drs. BAHRUNY DP

A. PENDAHULUAN
Metode penelitian secara garis besar menguraikan berbagai komponen yang dapat mencakup variabel dalam penelitian seperti; teori-teori dasar, perencanaan penelitian termasuk rancangan dan teknik pengumpulan data, pelaksanaan penelitian termasuk dan penafsiran, metode-metode analisis yang digunakan, model analisis dan pendekatan yang digunakan untuk menganalisis hasil penelitian sehingga dapat ditarik kesimpulan, dan laporan penelitian. Metode penelitian dapat diadopsi dari konsep teori tertentu yang telah ada atau menyusun metode sebagai modifikasi dari metode yang telah ada. Pada prinsipnya, metode penelitian lebih difokuskan untuk memberikan arahan pada aktifitas dan proses yang akan dikerjakan untuk mencapai tujuan.
Metodologi penelitian ilmiah banyak macamnya, terutama dilihat dari segi jenis-jenis penelitian ilmiah itu sendiri seperti; Penelitian Historis, Penelitian Deskriptif, PenelitianPengembangan,PenelitianKasus Penelitian Lapangan, Penelitian Korelasional Penelitian Eksperimen, dan Penelitian Tindakan.
Dalam makalah ini membahasa salah satu dari jenis penelitian ilmiah tersebut, yakni Penelitian Desdkriptif, dengan topik Konsep Dasar Metode Penelitian Deskriptif. Penulis memilih Jenis penelitian ini karena mengingat bahwa penelitian deskriptif dirancang untuk memperoleh informasi tentang status gejala pada saat penelitian dilakukan, atau untuk menjawab permasalahan yang sedang dihadapi pada situasi sekarang, termasuk persoalan pendidikan.
Metode penelitian deskriptip banyak mempunyai manfaat terutama dalam rangka mengadakan berbagai perbaikan terhadap persoalan yang menjadi obyek penelitian. Permasalahan yang layak diteliti dengan menggunakan metode deskriptif adalah masalah yang dewasa ini sedang sihadapi, misalnya dalam dunia pendidikan, baik untuk mengadakan penelaahan, perbandingan, maupun hubungan anatar gejala peristiwa, atau fenomena yang ada.
Sesuai Topik makalah ini Konsep Dasar Metode Penelitian Deskriptif akan memuat sub materi; pendahuluan, beberapa pengertian istilah penelitian ilmiah, aspek-aspek yang berkaitan dengan metode penelitian deskriptif, penutup dan kesimpulan.
Penulisan makalah ini menggunakan pendekatan kutipan langsung dan tidak langsung dari beberapa literature dan sumber informasi lainnya.
B. KONSEP DASAR METODE PENELITIAN DESKRIPTIF

1. Beberapa Pengertian Istilah
Dalam sub tema ini dikemukakan beberapa konsep dasar atau pengertian beberapa istilah yang berkaitan dengan Topik diatas sebagai berikut ;
Metode. Metode cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud (dalam ilmu pengetahuan dsb); cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.
[1] Metode (yunani; mithodos) adalah cara atau jalan. Sehubungan dengan upaya ilmiah, maka metode menyangkut cara kerja; yaitu cara kerja untuk dapat memahami obyek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan. [2]
Penelitian. Penelitian dapat dirumuskan sebagai penerapan pendekatan ilmiah pada pengkajian suatu masalah. Ini adalah cara untuk memperoleh informasi yang berguna dan dapat dipertanggungjawabkan. Tujuannya adalah untuk menemukan jawaban terhadap persoalan yang berarti, melalui penerapan prosedure-prosedure ilmiah.[3]
Metode Penelitian. Metode Penelitian sebagai metode ilmiah yaitu merupa kan prosedure atau langkah-langkah sitimatik dalam mendapatkan pengetahuan ilmiah atau ilmu. Ilmu merupakan pengetahuan yang didapat melalui metode ilmiah.[4]
Deskriptif. Deskriptif dari asal kata deskripsi yang berarti pemaparan atau penggambaran dengan kata-kata secara jelas dan terperinci, atau uraian. Sedangkan Deskriptif adalah kata bentukan yang berarti bersifat menggambarkan apa adanya. [5]
Metode Penelitian deskriptif. Metode Penelitian Deskriptif bertujuan untuk mendeskripsikan (memaparkan) peristiwa-peristiwa yang urgen terjadi pada masa kini. Pemaparan peristiwa tersebut dilakukan secara sistematik, akurat dan lebih menekankan pada data faktual.[6] Metode penelitian deskriptif adalah salah satu jenis metode penelitian ilmiah yang digunakan untuk memcahkan atau menjawab permasalahan yang sedang dihadapi pada situasi sekarang. Dilakukan dengan menempuh langkah-langkah pengumpulan, klasifikasi, pengolahan dan analisis data, membuat kesimpulan dan laporan, dengan tujuan utama untuk membuat penggambaran tentang sesuatu keadaan secara obyektif dalam situasi yang sedang dihadapi.[7]
2. Aspek-Aspek Metode Penelitian Deskriptif
Disamping memahami pengertian metode penelitian deskriptif di atas, juga banyak aspek yang perlu diketahui yang berkaitan dengan metode penelitian dekriptif tersebut, berikut ini penulis mencoba memaparkan beberrapa aspek dimaksud antara lain; jenis-jenis penelitian deskriptif, pola penelitian deskriptif, ciri-ciri penelitian deskriptif, langkah-langkah penelitian deskriptif, tahapan penelitian deskriptif, mengidentifikasi, memilih dan merumuskan masalah penelitian, melakukan kajian pustaka, merumuskan tujuan penelitian, menguraikan kegunaan dan pentingnya penelitian, menetapkan asumsi penelitian, menetapkan ruang lingkup dan pembatasan enelitian, membuat definisi Istilah/operasional, penyusunan rancangan penelitian (proposal), menentukan populasi dan sampel, menentukan instrumen penelitian (ngket atau kuesioner, wawancara atau interview, pengamatan atau observasi), pengumpulan dan pengolahan data, menganalisis data, serta pelaporan, dan sebagainya.
a. Jenis-Jenis Penelitian deskriptif.
Dalam buku Penelitian Kewpendidikan Prosedure dan Strategi oleh Mohamad Ali, mengemukakan jenis-jenis Penelitian Deskriptif secara singkat sebagai berikut;
[8] Survey. Survey merupakan suatu cara mengadakan penelitian yang dilakukan terhadap sekumpulan obyek yang cukup banyak dalam suatu jangka waktu tertentu. Studi Kasus. Studi Kasus adalah penelitian yang dilakukan dengan cara meneliti suatu permasalahan melalui suatu kasus yang terdiri dari unit tunggal. Studi Perbandingan. Studi Perbandingan yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara membandingkan persamaan dan perbedaan berbagai penomena untuk mencari faktor apa saja, atau situasi bagaimana yang menyebabkan timbulnya suatu peristiwa tertentu.
Studi Korelasi. Studi Korelasi pada hakekatnya merupakan penelaahan hubungan antara dua variabel pada satu situasi atau satu atau sekelompok subyek. Studi Prediksi. Studi Prediksi yaitu penelitian yang dilakukan untuk memperkirakan tentang kemungkinan munculnya suatu gejala berdasarkan gejala lain yang sudah muncul dan diketahui sebelumnya.
Studi Pertumbuhan. Studi Pertumbuhan yaitu studi ini dilakukan untuk mengetahui pertumbuhan dalam berbagai aspek yang berhubungan dengan kepentingnan sesuatu ( misalnya pendidikan), yang dilakukan dengan cara meneliti sasuatu aspek dari waktu kewaktu, baik untuk jangka panjang maupun jangka pendek. Studi Kecendrungan. Studi Kecendrungan adalah merupakan penelitian perpaduan antara metode sejarah, dokumenter dan survey yang dilakukan berdasarkan suatu teori, dan dibuat perkiraan kecendrungan yang akan terjadi tentang suatu hal pada masa akan datang dengan menghubungkan teori atau hasil survey itu dengan data yang terdahulu.
b. Pola dan Ciri Penelitian Deskriptif
[9]
Penelitian Deskriptif merupaka penelitian yang berpola menggambarkan apa yang ada dilapangan dan mengupayakan penggambaran data, terlepas apakah data itu kualitatif ataupun kuantitatif. Oleh karenanya penelitian pola deskriptif ini apabila ingin menggambarkan data yang berbentuk /bersumber dari angka-angka maka pola ini sering disebut pola deskriptif kuantitatif . Sebaliknya apabila datanya berbentuk/bersumber dalam bentuk murni ordinal atau nominal maka polanya disebut dengan pola deskriptif kualitatif.
Adapun ciri penelitian deskriptif sbb; (1)Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang membuat narasi data dengan semua hal yang berkaitan dengan pemunculan data. (2)Karena penelitian deskriptif hanya menggambarkan, maka bisa saja tidak harus mengajukan hipotesis, membuat ramalan, atau prediksi. Untuk itu penelitian ini harus rinci dan lengkap menjelaskan semua fenomena yang ada sektar data. (3)Pola deskriptif jika dipakai dalam penelitian survey ada hal yang harus dipenuhi yaitu; data yang telah diangkat melalui survey harus dideskripsikan secara detail, dan data tersebut harus dikomparasikan dengan data lain. (4)Alur penelitian deskripsi ini digambarkan sbb; Variabel Metodologi Data Temuan.
c. Langkah-Langkah Proses Penelitian Deskriptif.
Langkah-langkah penelitian deskriptif dikemukakan secara singkat dalam Pengantar Penelitian Dalam Pendidikan oleh Arief Furchan, bahwa Proses penelitian deskriptif dapat diikhtisarkan dalam langkah-langkah sebagai berikut
[10] ;
Pernyataan Masalah. Pernyataan masalah ini berarti menetapkan variabel-veriabel yang akan diteliti dalam studi itu, dan menetapkan apakah studi itu hanya akan berusaha menyelidiki status variabel ataukah juga akan meneliti hjubungan antara variabel-variabel tersebut.
Identifikasi Informasi. Identifikasi informasi yang diperlukan untuk memecahkan masalah, dalam hal ini peneliti merinci informasi yang akan dikumpulkan, menyatakan apakah ini bersifat kualitatif atau kuantitatif, dan mengidentifikasikan bentuk informasi ini (jumlah, skor tes, jawaban atas kuesioner, wawancara, dan sebagainya).
Pemilihan atau Pengembangan Instrumen Pengumpul Data. Dalam hai ini berarti Peneliti memilih kuesioner, wawancara, tes, dan berbagai macam skala adalah instrumen yang paling sering dipakai dalam penelitian deskriptif. Jika penelitia akan menggunakan instrumen yang telah ada, reliabilitas instrumen ini, validitasnya untuk mengukur variabel yang bersangkutan, dan kecocokannya bagi populasi yang dimaksud harus diteliti.
Identifikasi Populasi dan Penentuan Prosedur Penariakn Sampel yg dierlukan.
Peneliti menentukan kelompok yang akan dicari informasinya, dan peneliti berusaha memilih atau menentukan sampel yang akan mewakili populasi induknya dengan baik dan tepat.
Rancangan Prosedur Pengumpulan Data. Dalam penelitian deskriptif instrumen yang sering digunakan adalah angket (kuesioner), pedoman wawancara dan pedoman pengamatan. Jelaskan variabel dan faktor-faktor yang akan diukur, serta jenis data yang akan dikumpulkan. Instrumen adalah alat yang digunakan untuk
mengukur variabel yang diteliti. Instrumen atau alat pengumpul data harus sesuai dengan tujuan pengumpulan data. Sumber data dan jenis data yangakan dikumpulkan harus jelas. Instrumen penelitian yang digunakan harus memenuhi persyaratan validitas (kesahihan) dan reliabilitas (keterandalan),
Pengumpulan Data. Prosedur yang dilakukan dalam proses pengumpulan data dibagi menjadi dua tahap, yaitu tahap persiapan dan tahap pelaksanaan. Tahap persiapan terdiri dari persiapan yang bersifat konseptual, teknis dan administratif. Tahap pelaksanaan pengumpulan data disesuaikan dengan teknik pengumpulan data yang digunakan.
Menganalisis Data. Dalam penelitian deskriptif kegiatan analisis data meliputi langkah-langkah mengolah data, menganalisis data dan menemukan hasil. Mengolah data adalah proses persiapan sebelum dilakukan analisis data, yaitu pencocokan (checking), pembenahan (editing), pemberian label (labeling) dan memberikan kode (coding). Selanjutnya adalah menganalisis data yang meliputi mengklasifikasi data, menyajikan data dan melakukan analisis statistik diskriptif atau prosentase. Data yang terkumpul diklasifikasi menjadi dua kelompok data yaitu data kualitatif dan data kuantitatif.
[11]
Dalam sumber lain menguraikan Tahapan Proses Penelitian Deskriptif Sbb :
1. Mengidentifikasi, Memilih dan Merumuskan Masalah Penelitian
[12]
Penelitian deskriptif dimulai dari munculnya minat peneliti terhadap suatu fenomena yang sedang menjadi perhatian peneliti. Atau mungkin juga dalam situasi tertentu tidak dapat berjalan dengan semestinya sesuai rencana dan prosedur yang telah ada. Situasi tersebut menunjukkan ada kesenjangan antara yang seharusnya dengan kenyataan, antara yang diperlukan dengan yang tersedia, antara harapan dengan capaian. Hal tersebut dapat dijadikan obyek penelitian yang unik dan menarik, sehingga perlu pengembangan atau penyempurnaan melalui penelitian. Fenomena tersebut kemudian disusun menjadi masalah penelitian yang lebih jelas dan sistematis dengan memanfaatkan informasi ilmiah yang sudah tersedia dalam literatur yaitu teori
Ada beberapa alasan perlunya diadakan suatu penelitian di bidang tertentu: 1) tidak ada informasi sama sekali pada aspek tertentu pada bidang tersebut; 2) informasi yang ada belum lengkap pada aspek tertentu pada bidang tersebut; 3) banyak informasi namun perlu pembuktian kembali kebenarannya dengan data yang lebih mutakhir.
Untuk memperoleh permasalahan penelitian tidaklah mudah, seorang peneliti perlu peka, bersikap kritis dan berfikir logis terhadap fenomena yang terjadi. Penting untuk selalu mengembangkan ketajaman persepsinya, sehingga lebih cermat dan teliti pada sesuatu yang perlu dipertanyakan. Selain itu, untuk memperoleh permasalahan penelitian, seorang peneliti perlu memiliki pandangan obyektif yang mampu melepaskan diri dari praduga dan opini pribadi, serta selalu siap untuk dapat menangkap permasalahan yang timbul. Bersikap independen, yaitu tidak mudah terpengaruh oleh pandangan orang lain. Mempunyai wawasan yang luas berkaitan dengan permasalahan penelitian.
Ada beberapa sumber informasi masalah penelitian. Masalah penelitian yang bersumber dari literatur sering dan lazim dgunakan, terutama literatur primer seperti jurnal akademik dan profesional, jurnal penelitian, laporan penelitian, skripsi. tesis, desertasi, makalah, buku dan tinjauan pustaka. Tentunya literatur sebagai sumber masalah penelitian harus memiliki kriteria tertentu yaitu aktualitas isi sumber tersebut. Pengalaman empirik di lapangan di bidang profesi se hari-hari merupakan sumber masalah yang potensial. Sumber masalah penelitian lainnya adalah hasil komunikasi dengan para ahli atau teman sejawat di bidang terkait, dan juga hasil pengamatan. Hasil berfikir pribadi seorang peneliti sendiri dapat juga menjadi sumber masalah penelitian yang memang layak untuk diteliti.
Ada beberapa kriteria kelayakan yang perlu diperhatikan dalam menentukan suatu masalah untuk diteliti. Masalah yang akan diteliti memiliki kontribusi profesionil dan signifikansi secara ilmiah terhadap ilmu pengetahuan (teoritik) maupun secara praktis; mempunyai derajad keunikan dan keaslian; tersedia sumber data dan memungkinkan untuk pengumpulan data; tersedianya instrumen pengukuran data; tersedianya dana dan waktu untuk melaksanakan penelitian; dan sesuai dengan kemampuan peneliti.
Setelah menentukan permasalahan penelitian yang akan diteliti, selanjutnya dirumuskan masalah penelitian tersebut secara singkat jelas padat dalam bentuk kalimat tanya. Ditinjau dari cakupan aspek-aspek yang terkait dengan masalah penelitian maka rumusan masalah penelitian dapat dibedakan secara umum dan khusus. (Ibnu, Mukhadis, Dasna: 2003). Rumusan masalah umum menunjukkan keseluruhan permasalahan penelitian secara utuh. Contoh: Bagaimanakah pelaksanaan Pendidikan Jasmani di Sekolah Menengah Umum I Malang berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi?
Rumusan masalah khusus yang berfokus pada aspek-aspek tertentu dari permasalahan yang dikaji. Contoh: 1) Bagaimanakah kegiatan Guru dalam pelaksanaan Proses Belajar Mengajar Pendidikan Jasmani berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi? 2) Bagaimanakah kegiatan Siswa dalam pelaksanaan Proses Belajar Mengajar Pendidikan Jasmani berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi? 3) Bagaimanakah ketersediaan sarana dan prasarana untuk mendukung kegiatan Proses Belajar Mengajar Pendidikan Jasmani berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi?
2. Melakukan Kajian Pustaka
[13]
Setelah masalah penelitian ditetapkan, selanjutnya pada tahapan ini peneliti mencari landasan teoritis dari permasalahan penelitiannya dengan cara melakukan kajian pustaka. Tujuan kajian pustaka adalah untuk memperoleh informasi yang relevan dengan masalah yang diteliti, mempedalam pengetahuan tentang obyek (variabel) yang diteliti, mengkaji teori dasar yang berkaitan dengan masalah yang diteliti, mengkaji temua penelitian terdahulu, dan mencari informasi aspek masalah yang belum tergarap.
Sumber kajian pustaka dapat diperoleh dari sumber primer dan sekunder. Sumber primer merupakan karangan asli yang ditulis oleh orang lain secara langsung mengalami, melihat dan mengerjakan sendiri. Sumber sekunder adalah tulisan tentang penelitian orang lain. Bahan pustaka yang biasanya tersedia diperpustakaan adalah ensiklopedia, kamus, buku-buku teks dan buku referensi, buku pegangan, biografi, indeks, abstrak laporan penelitian, majalah, jurnal dan surat kabar, skripsi, tesis, desertasi. Bahan pustaka tersebut dapat juga diperoleh dari instansi atau lembaga tertentu seperti LIPI atau lembaga yang terkait dengan obyek penelitian.
Kriteria yang perlu diperhatikan dalam memilih bahan pustaka, yaitu kemuta-khiran dan relevansi. Dengan memilih bahan pustaka yang mutakhir maka akan diperoleh informasi terbaru dan representatif sebagai landasan teori obyek yang sedang diteliti. Selain itu, bahan pustaka yang relevan diperlukan untuk menghasilkan kajian pustaka yang berkaitan erat dengan masalah yang diteliti.
3. Merumuskan Tujuan Penelitian
[14]
Tujuan penelitian merupakan ungkapan sasaran yang akan dicapai dalam suatu penelitian. Tujuan penelitian harus dinyatakan dengan kongkrit, jelas dan ringkas dan dinyatakan dalam bentuk kalimat pernyataan. Isi dan rumusan tujuan penelitian harus mengacu pada rumusan masalah penelitian.
Dalam penelitian deskriptif, tujuan penelitian adalah untuk memperoleh gambaran dan diskripsi secara rinci, sistematis dan akurat suatu fenomena. Rumusan tujuan peneliti-an deskriptif meliputi mengklasifikasi dan menguraikan tentang sifat-sifat atau faktor-faktor fenomena tersebut. Suatu penelitian ada yang hanya memerlukan satu tujuan, ada juga mempunyai beberapa tujuan sesuai dengan sub-permasalahan (Zainuddin:1988). Contoh rumusan tujuan penelitian: Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pelaksanaan Pendidikan Jasmani di Sekolah Menengah Umum I Malang berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Rumusan tujuan penelitian tersebut dijabarkan lebih rinci berdasakan sub permasalahan penelitian sesuai rumusan permasalahan, meliputi kegiatan guru, siswa dan ketersediaan sarana dan prasarana dalam pelaksanaan Proses Belajar Mengajar Pendidikan Jasmani berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi?
4. Menguraikan Kegunaan dan Pentingnya Penelitian
[15]
Dalam bagian ini diuraikan kegunaan dan pentingnya penelitan yang berisi alasan bahwa masalah yang dipilih memang layak untuk diteliti. Suatu penelitian adalah sebagai cara mengembangkan pengetahuan yaitu berupa temuan-temuan baru, merupakan koreksi atau dukungan terhadap teori yang sudah ada. Suatu penelitian berguna untuk pengem-bangan teknologi. Mungkin juga suatu penelitian bermanfaat sebagai penyumbang informasi penting pembuatan kebijakan dan perencanaan program pembangunan. Kegunaan yang lain adalah sebagai alat pemecahan masalah-masalah praktis di lapangan dalam bidang tertentu..
5. Menetapkan Asumsi Penelitian
[16]
Asumsi dalam konteks penelitian diartikan sebagai anggapan dasar, yaitu suatu pernyataan atau sesuatau yang diakui kebenarannya atau dianggap benar tanpa harus dibuktikan lebih dahulu. Asumsi penelitian merupakan pijakan berpikir dan bertindak dalam melaksanakan penelitian. Menurut sifatnya ada tiga jenis asumsi, yaitu asumsi konseptual, asumsi situasional dan asumsi operasional. Asumsi konseptual berakar pada pengakuan akan kebenaran suatu konsep atau teori. Asumsi situasional diperlukan untuk mengantisipasi adanya kondisi lokal atau situasi yang bersifat sementara yang berpotensi mempengaruhi berlakunya suatu hukum atau prinsip yang dapat menggoyahkan rancangan penelitian. Asumsi operasional bertolak dari masalah-masalah operasional yang masih dalam jangkauan pengendalian peneliti. (Ibnu, Mukhadis, Dasna: 2003)
6. Menetapkan Ruang lingkup dan Keterbatasan Penelitian
[17]
Ruang lingkup penelitian menggambarkan luas dan batas-batas area penelitian yang akan dilaksanakan. Pada bagian ini dikemukakan secara pasti faktor-faktor atau variabel-variabel yang diteliti, subyek atau populasi penelitian, dan lokasi penelitian. Ruang lingkup penelitian akan menjadi jelas dengan menjabarkan variabel penelitian menjadi sub-variabel dan indikator-indikatornya. Variabel adalah faktor yang apabila diukur memberikan nilai yang bervariasi. Variabel adalah suatu konsep yang mempunyai lebih dari satu nilai, keadaan, katagori, atau kondisi. Dalam penelitian deskriptif hanya mempunyai satu variabel, sehingga variabel penelitian tersebut dijabarkan menjadi sub-variabel dan indikator sesuai dengan permasalahan yang diteliti.
Keterbatasan penelitian menunjuk kepada suatu situasidan kondisi yang tidak bisa dihindari dalam penelitian dan peneliti tidak dapat berbuat banyak untuk mengendalikan- nya. Situasi dan kondisi tersebut dapat mempengaruhi kesimpulan hasil penelitian dan merupakan kelemahan penelitian. Misalnya, jika penelitian dilakukan di sekolah, tentu ada faktor di luar sekolah yang tidak dapat dikendalikan oleh peneliti. Meskipun demikian tidak berarti hasil penelitian menjadi tidak berguna dan keterbatasan penelitian ini perlu dikemukakan agar pembaca dapat menyikapi temuan penelitian tersebut sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada.
7. Membuat Definisi Istilah/Operasional
[18]
Setiap istilah yang unik, istilah yang mempunyai beberapa pengertian atau dapat diartikan ganda, yang berhubungan erat dengan konsep-konsep pokok dengan masalah yang diteliti atau variabel penelitian harus diberi definisi. Definisi istilah ini penting untuk menyamakan pengertian dan makna istilah yang dimaksud. Definisi istilah dapat berbentuk definisi operasional variabel yang diteliti dan dititikberatkan pada pengertian yang diberikan oleh peneliti. Definisi operasional adalah definisi yang didasarkan atas sifat-siat sesuatu yang didefinisikan yang dapat diamati dan diukur. Sehingga dari definisi operasional tersebut akan mengacu pada cara pengambilan data dan alat pengumpul data yang akan digunakan.
8. Penyusunan Rancangan Penelitian
[19]
Dalam menyusun rancangan penelitian mencakup pokok-pokok bahasan antara lain 1) menentukan metode/rancangan penelitian, 2) menentukan populasi dan sampel penelitian, 3) menentukan instrumen penelitian, 4) mengumpulkan data, dan 5) melakukan analisis data.
Sesuai dengan tujuan dan sifatnya, pada umumnya penelitian deskriptif meng-gunakan metode survey. Metode survey merupakan bagian dari studi deskriptif yang bertujuan untuk mencari kedudukan (status) fenomena (gejala) dan menentukan ke-samaan status dengan cara membandingkan dengan standar yang sudah ditentukan (Suharsimi: 1989). Lebih lanjut dijelaskan bahwa studi survey merupakan bagian dari studi deskriptif yang meliputi sebagai berikut. 1) School survey yang bertujuan meningkatkan efisiensi dan efektifitas pendidikan. Masalahnya berhubungan dengan situasi belajar, proses belajar mengajar, personalia pendidikan, siswa dan hal-hal yang berkaitan dengan yang menunjang proses belajar mengajar. 2) Job analisis yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi mengenai tugas-tugas dan tanggung jawab karyawan, aktivitas khusus, keterlibatan dan fungsi anggota organisasi, kinerja dan fasilitas. 3) Analisis dokumen, sering disebut juga analisis isi analisis aktivitas atau analisis informasi. Kegiatannya antara lain menganalsis dokumen, peraturan, keputusan-keputusan dan buku. 4) Public opinion surveys bertujuan untuk mengetahui pendapat umum tentang sesuatu hal. 5) Community surveys disebut juga social surveys atau field surveys yang bertujuan mencari informasi tentang aspek kehidupan secara luas dan mendalam yang menyangkut masyarakat dan sekolah. (Van Dalen: 1962).
Menurut Singarimbun (1987), penelitian survey dapat digunakan untuk maksud penjajagan (eksploratif), deskriptif, penjelasan (explanatory atau confirmatory), evaluasi, prediksi penelitian operasional dan pengembangan indikator-indikator sosial.
Contoh Format Proposal Penelitian Deskriptif
[20]
1. Latar Belakang Masalah
2. Penegasan Judul
3. Rumusan Masalah
4. Tujuan Penelitian
5. Hipotesis Penelitian (jika ada)
6. Kegunaan Penelitian
7. Definisi Istilah/ Definisi Operasional
8. Ruang Lingkup Wilayah Penelitian
9. Tempat dan Waktu Penelitian 10. Jadwal Kegiatan Penelitian 11. Populasi dan Teknik Sampling 12. Instrumen Penelitian 13. Teknik Pengumpulan Data 14. Teknik Analisis Data 15. Anggaran Biaya Penelitian 16. Daftar Pustaka
9. Menentukan Populasi dan Sampel
[21]
Populasi adalah keseluruhan subjek atau objek yang menjadi pusat perhatian penelitian. Populasi dapat berupa himpunan orang, benda, kejadian, gejala, kasus, waktu, tempat. Populasi dapat berstatus sebagai objek penelitian jika populasi tersebut sebagai substansi yang diteliti. Populasi penelitian dapat berstatus sebagai sumber informasi. Dalam penelitian survey, orang atau sekelompok orang biasanya berfungsi sebagai sumber informasi tentang hal-hal yang berkaitan dengan dirinya atau fenomena yang berkaitan dengan dirinya. (Ibnu, Mukhadis dan Dasna: 2003).
Pelibatan populasi dalam suatu penelitian merupakan suyatu yang ideal. Tetapi dalam suatu penelitian seringkali tidak dapat menjangkau populasi karena jumlahnya sangat besar. Dengan beberapa pertimbangan, memungkinkan penelitian populasi tidak perlu dilakukan. Pertimbangan tersebut adalah pertimbangan akademik, yaitu berlakunya inferensi statistik dan pertimbangan non akademik yaitu keterbatasan tenaga, waktu, biaya dukungan logistik dan kepraktisan. (Ibnu, Mukhadis dan Dasna: 2003). Maka penelitian dapat hanya menjangkau sebagian dari populasi. Sebagian populasi tersebut adalah sampel. Sampel merupakan bagian dari populasi atau sejumlah anggota populasi yang mewakili populasinya. Karena sampel mewakili populasi maka sampel harus dipilih sesuai dengan karakteristik populasi tersebut. Sehingga sampel tersebut benar-benar representatif, artinya sampel tersebut mencerminkan keadaan populasi secara cermat.
Cara pengambilan sampel (sampling) dibedakan menjadi dua yaitu random sampling dan non-random sampling. Dalam random (acak) sampling, setiap individu anggota populasi mempunayi kesempatan (probabilitas) yang sama untuk menjadi sampel. Dalam non-random sampling, kesempatan setiap individu anggota populasi menjadi sampel tidak sama. Yang termasuk random sampling adalah simple random sampling (acak sederahana), systematic random sampling, stratified random sampling (acak stratifiasi atau bertingkat), cluster random sampling (acak rumpun atau kelompok) dan multistage random sampling (acak gabungan berbagai cara). Yang termasuk non-random sampling adalah sampling seenaknya, purposif sampling (sampling bertujuan), quota sampling..
Dalam penelitian deskriptif, sampel sebagai sumber data seringkali disebut responden, tergantung pada cara pengambilan data. Besarnya sampel tergantung dari homogenitas karakteristik populasi. Semakin homogen karakteristik populasi, semakin sedikit sampel yang perlu diambil. Sebaliknya, semakin hiterogen karakteristik populasi, semakin besar sampel yang harus diambil.
10. Menentukan Instrumen Penelitian
[22]
Instrumen adalah alat yang digunakan untuk mengukur variabel yang diteliti. Instrumen atau alat pengumpul data harus sesuai dengan tujuan pengumpulan data. Sumber data dan jenis data yangakan dikumpulkan harus jelas. Instrumen penelitian yang digunakan harus memenuhi persyaratan validitas (kesahihan) dan reliabilitas (keterandalan), paling tidak ditinjau dari segi isinya sesuai dengan variabel yang diukur. Prosedur pengembangan instrumen pengumpul data perlu dijelaskan tentang proses uji coba, analisis butir tes, uji kesahihan dan uji keterandalan.
Dalam penelitian deskriptif instrumen yang sering digunakan adalah angket (kuesioner), pedoman wawancara dan pedoman pengamatan. Jelaskan variabel dan faktor-faktor yang akan diukur, serta jenis data yang akan dikumpulkan.
Berikut ini disajikan pengembangan instrumen angket (kuesioner), pedoman wawancara dan pedoman pengamatan.
Angket atau Kuesioner
[23]
Teknik angket adalah salah satu cara untuk mengumpulkan data atau informasi siswa menggunakan serangkaian pertanyaan yang diajukan kepada siswa secara tertulis.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun angket sebagai berikut. Pertama, merumuskan tujuan yang diinginkan dari penggunaan angket sebagai alat pengumpul data siswa. Kedua, mengidentifikasi masalah yang menjadi materi angket dan dijabarkan ke dalam susunan kalimat-kalimat pertanyaan. Ketiga, susunan kalimat pertanyaan harus disesuaikan dengan kemampuan siswa. Menggunakan kata-kata yang mudah dimengerti, jelas dan tidak bermakna ganda. Keempat, dituntut kreatifitas penyusun angket agar diperoleh obyektifitas jawaban.
Teknik angket dibedakan menjadi dua, yaitu angket terstruktur dan angket tidak terstruktur. Angket terstruktur bersifat tegas, pertanyaan yang diajukan kepada siswa menuntut jawabab yang tegas dan jawaban relatif lebih singkat. Sedangkan angket tidak terstruktur, siswa diharapkan menguraikan jawaban secara lengkap leluasa dan terbuka. (Kirkendal, Gruber, dan Johnson: 1980).
Berdasarkan bentuk dan jenis pertanyaan, angket dibedakan menjadi tiga bentuk. Bentuk pertama adalah angket isian tertutup. Jawaban yang diharapkan sudah tertentu dan diarahkan oleh pembuat angket. Bentuk angket kedua adalah angket isian terbuka. Angket ini menghendaki jawaban yang lebih luas dan lengkap. Bentuk ketiga adalah angket dengan daftar cek. Siswa diminta menentukan jawaban yang sesuai dengan memberi tanda cek () pada daftar yang telah tersedia. Bentuk keempat adalah angket pilihan ganda. Jawaban siswa terbatas pada alternatif jawaban yang telah direncanakan penyusun angket dengan cara memilih jawaban yang sesuai. (Suharsimi: 1989)
Wawancara (interview)
[24]
Teknik wawancara adalah cara mengumpulkan data tentang siswa yang dilakukan dengan mengadakan percakapan antara pewawancara (guru) dengan siswa yang sedang dikumpulkan datanya.
Dalam melaksanakan wawancara perlu diperhatikan beberapa hal sebagai berikut. Pertama, pewawancara hendaknya dapat menciptakan hubungan yang baik dengan yang diwawancarai agar jawaban dan pendapatnya dapat dikemukakan secara terbuka, obyektif dan benar. Kedua, pewawancara perlu menciptakan situasi wawancara sedemikian rupa sehingga siswa yang sedang diwawancarai tidak merasakan seperti diinterograsi. Ketiga, agar wawancara tidak menyimpang dari apa yang ingin diperoleh, terlebih dahulu perlu disusun materi wawancara sebagai pedoman bagi pewawancara. (Suharsimi: 1989)
Berdasarkan peranan yang dilakukan, teknik wawancara dibedakan menjadi tiga jenis. Pertama, wawancara berpedoman. Yaitu wawancara yang telah direncanakan menggunaka suatu pedoman wawncara, sehingga wawancara sesuai dengan tujuan. Kedua, wawancara terpusat, yaitu wawancara yang dilakukan terhadap siswa-siswa tertentu yang diharapkan dapat diperoleh informasi yang ber-kaitan dengan suatu obyek dan tujuan wawancara. Ketiga, wawancara berulang, biasanya dilakukan untuk mengungkap perkembangan proses sosial pada kurun waktu tertentu. (Suharsimi: 1989).
Berdasarkan jumlah orang yang diwawancarai dibedakan menjadi dua jenis. Pertama, wawancara dilakukan terhadap satu siswa. Biasanya wawancara ini untuk mengumpulkan informasi tentang masalah-masalah siswa yang bersifat pribadi. Kedua, wawancara yang dilakukan erhadap sekelompok siswa atau lebih dari satu siswa. Wawancara ini digunakan untuk mengumpulkan informasi dari sekelompok siswa. yang mempunyai masalah yang sama.
Pengamatan (observasi)
[25]
Teknik pengamatan atau observasi dilakukan dengan cara mengamati tingkah laku siswa atau obyek sedemikian rupa, diharapkan siswa atau obyek yang diamati tidak mengetahui bahwa dia sedang diamati. Dalam melakukan pengumpulan data mengguna-kan teknik pengamatan ada beberapa yang perlu diperhatikan. Pertama, tujuan yang yang ingin dicapai harus ditetapkan lebih dahulu. Kedua, kegiatan pengamatan direncanakan secara sistematis; mulai dari instrumen, pelaksanaan pengamatan, pencatatan sampai dengan pengolahan hasil. Ketiga, perlu diperhati-kan reliabilitas, validitas dan obyeltifitas instrumen. Keempat, meskipun teknik pengamatan bersifat kualitatif dan subyektif, diusahakan diperoleh hasil yang kuantitatif dan obyektif. (Suharsimi: 1989)
Berdasarkan tujuan dan cara pengamatan, dibedakan menjadi beberapa teknik pengamatan: Pertama, pengamatan partisipatif. Dalam pengamatan partisipatif ini, pengamat ikut terlibat dan mengambil bagia dalam kegiatan yang dilakukan siswa atau obyek yang diamati. Misalnya, seorang guru ingin mengetahui kesungguhan dan keaktifan siswa dalam suatu kegiatan belajar mengajar permainan sepakbola; maka guru harus ikut terlibat langsung dalam permainan sepakbola tersebut. Selain itu ada cara pengamatan kuasi-partisipatif, yaitu pengamat harus ikut terlibat langsung dalam kegiatan atau kadang-kadang hanya mengamati dari luar kegiatan saja. Kedua, pengamatan sistematis. Sebelum melakukan pengamatan, aspek-aspek yang akan diamati telah disusun dan diatur dalam suatu struktur pengamatan berdasarkan katagori masalah yang akan diamati. Aspek-aspek yang akan diamati dijabarkan dalam suatu instrumen pengamatan. Misalnya, pengamatan tentang kemampuan kerjasama dalam bermain bola voli. Maka dalam instrumen pengamat-an harus dijabarkan aspek-aspek tingkah laku pemain bola voli yang merupakan indikator kemampuan kerjasama dalam bermain. Ketiga, pengamatan eksperimental. Biasanya pengamatan eksperimental dilakukan untuk mengetahui gejala-gejala atau perubahan-perubahan sebagai akibat dari suatu situasi perlakuan eksperimen yang sengaja diadakan. Contoh: pengamatan tentang sportifitas dalam bermain bulutangkis jika tidak dipimpin oleh wasit. (Budiwanto: 2001)
11. Mengumpulkan Data
[26]
Setelah instrumen penelitian diperoleh, selanjutna dilakukan pengumpulan data. Jelaskan langkah-langkah yang ditempuh dan teknik yang digunakan untuk mengpulkan data. Dalam proses mengumpulan data mungkin melibatkan petugas, maka harus dijelaskan kualifikasi dan jumlahnya. Petugas pengumpul data perlu dilakukan koordinasi dan penjelasan teknis pengumpulan data. Kemudian tetapkan jadwal waktu pelaksanaan pengumpulan data.
Prosedur yang dilakukan dalam proses pengumpulan data dibagi menjadi dua tahap, yaitutahap persiapan dan tahap pelaksanaan. Tahap persiapan terdiri dari persiapan yang bersifat konseptual, teknis dan administratif. Tahap pelaksanaan pengumpulan data disesuaikan dengan teknik pengumpulan data yang digunakan.
12. Menganalisis Data
[27]
Setelah diperoleh data dari hasil pengumpulan data, tahap selanjutnya adalah . melakukan analisis data. Berdasarkan sifat data yang dikumpulkan, analisis data hasil penelitian dibedakan menjadi dua, yaitu analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Analisis kualitatif digunakan untuk data yang bersifat uraian kalimat yang tidak dapat diubah dalam bentuk angka-angka. Sedangkan analisis kuantitatif digunakan untuk data yang dapat diklasifikasi dalam katagori-katagori atau diubah dalam bentuk angka-angka. Analisis kuantitatif disebut juga analisis statistik. Analisis statistik dibedakan menjadi dua, yaitu statistik deskriptif dan statistik inferensial. Statistik deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan sifat-sifat sampel atau populasi. (Budiwanto: 1999). Statistik inferensial digunakan untuk mengambil kesimpulan mengenai sifat-sifat populasi berdasarkan data dari sample.
Dalam penelitian deskriptif kegiatan analisis data meliputi langkah-langkah mengolah data, menganalisis data dan menemukan hasil. Mengolah data adalah proses persiapan sebelum dilakukan analisis data, yaitu pencocokan (checking), pembenahan (editing), pemberian label (labeling) dan memberikan kode (coding). Kegiatan pen-cocokan adalah untuk mengetahui jumlah instrumen yang terkumpul sesuai dengan kebutuhan dan mengecek kelengkapan lembar instrumen. Kegiatan pembenahan meliputi mengecek kelengkapan pengisian data, keterbacaan tulisan, kejelasan makna jawaban, keajegan dan kesesuaian jawaban, relevansi jawaban, dan penggunaan satuan data. Kegiatan pemberian label adalah pemberian identitas secara spesifik terhadap instrumen yang masuk, meliputi jenis instrumen, identitas responden, stratifikasi, area atau kelompok. Kegiatan pemberian kode adalah mengklasifikasi jawaban responden menurut jenis dan sifatnya dengan cara memberi kode.
Kegiatan selanjutnya adalah menganalisis data yang meliputi mengklasifikasi data, menyajikan data dan melakukan analisis statistik diskriptif atau prosentase. Data yang terkumpul diklasifikasi menjadi dua kelompok data yaitu data kualitatif dan data kuantitatif. Data yang bersifat kualitatif yaitu jawaban responden yang digambarkan menggunakan kata-kata atau kalimat. Data kualitatif ini selanjutnya dipisah-pisahkan menurut katagori yang digunakan untuk mengambil kesimpulan. Data yang bersifat kuantitatif berupa angka-angka dapat diproses dengan beberapa cara, antara lain menggunakan statistik deskriptif atau prosentase. Statistik deskriptif antara lain rata-rata hitung (mean), median dan modus. Kadang-kadang, setelah dianalisis persentase kemudian ditafsirkan dengan kata yang bersifat kualitatif, misalnya 86% --100% adalah baik sekali, 71% -- 85% adalah baik, 56% --70% adalah sedang, 46% -- 55% adalah kurang, dan 46% ke bawah adalah kurang sekali. Teknik ini sering disebut teknik deskriptif kualitatif dengan persentase. Berdasarkan analisis data tersebut kemudian divisualisasikan dalam bentuk tabel, grafik atau diagram secara jelas sebagi temuan hasil penelitian.




C. PENUTUP
Metode Penelitian Deskriptif adalah salah satu jenis dari sekian metode penelitian ilmiah yang sering digunakan dalam penulisan karya ilmiah terutama di kalangan Perguruan Tinggi. Salah satu lahan penelitian deskriptif adalah bidang sosial kemasyarakatan atau bidang ilmu-ilmu sosial termasuk dalam bidang pendidikan.
Penguasaan metode penelitian ilmiah dapat meningkatkan kemampuan civitas akademika untuk menghasilkan keluaran penelitian yang bermutu. Keluaran penelitian dapat menjadi kontribusi perguruan tinggi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pembangunan nasional. Dengan demikian, penelitian merupakan wahana penting bagi perguruan tinggi khususnya dikalangan Mahasiswa untuk turut berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan, agaama , dan teknologi serta pembangunan nasional.
Dengan demikian penulis harapkan, disamping tujuan pembuatan makalah ini untuk memenuhi tugas perkuliahan sebagai bahan diskusi kelas dengan teman mahasiswa Pascasarjana Konsentrasi Pendidikan Islam IAIN Antasari semester 2 2008/2009, juga penulis mengharapkan semoga Makalah ini dapat memberi manfaat dan tambahan wawasan bagi penulis sendiri relevansinya dengan metode penelitian dan penulisan karya ilmiah untuk penyusunan Proposal Penelitian dan Tesis ke depan nantinya.
Makalah ini sangat terbatas isi / muatannya. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan partisipasi berupa tanggapan, pembahasan, masukan, perbaikan, dan penyempurnaan makalah ini dari teman-teman peserta diskusi.
Atas partisipasi dan sumbangan ilmiahnya diucapkan terima kasih.

Penulis Kelmpok I.







DAFTAR SUMBER RUJUKAN



Arief Furchan, Pengantar Penelitian Dalam Pendidikan, Usaha Nasional, Surabaya, 1982

Burhan Bangin, Metodologi Penelitian Kualitatif, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2008

http://www.infoskripsi.com/Resource/Penelitian-Pendidikan.html,Dasar-dasar Metodologi Penelitian, Universitas Negeri, Malang,
http://www.infoskripsi.com/html - 36k - , Contoh Proposal Penelitian Deskriptif,
IInstitut Agama Islam Negri Antasa, Pedoman Penulisan Tesis, Program Pascasarjana IAIN Antasari, Banjarmasin, 2007.

Koentjaraningrat, Metode-Metode Penelitian Masyarakat, PT. Gramedia, Jakarta, 1981

Mohamad Ali, Penelitian Kewpendidikan Prosedure dan Strategi, Angkasa, Bandung, 1982

Suahrsimi Arikunto, dkk., Penelitian Tindakan Kelas, Bumi Aksara, Jakarta, 2006

Sudjarwo, MS., Dr. H. Metodologi Penelitian Sosial, Mandiri Maju, Bandung, 2001

Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia Ed.II, Balai Pustaka, Jakarta, 1995, hlm. 652.

Zainal Aqib, dkk., Penelitian Tindakan Kelas Untuk Guru SMP, SMA, SMK, Arama Widya, Bandung, 2008.

[1] Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia Ed.II, Balai Pustaka, Jakarta, 1995, hlm. 652.

[2] Koentjaraningrat, Metode-Metode Penelitian Masyarakat, PT. Gramedia, Jakarta, 1981, hlm. 16

[3] Arief Furchan, Pengantar Penelitian Dalam Pendidikan, Usaha Nasional, Surabaya, 1982, hlm. 44

[4] Sudjarwo, MS., Dr. H. Metodologi Penelitian Sosial, Mandiri Maju, Bandung, 2001, hlm. 22.

[5] Tim Penyusun, op cit, hlm. 228.
[6] Dasar-dasar Metodologi Penelitian, Universitas Negeri, Malang, http://www.infoskripsi.com/Resource/ Penelitian-Pendidikan.html

[7] Mohamad Ali, Penelitian Kewpendidikan Prosedure dan Strategi, Angkasa, Bandung, 1982, hlm. 120.

[8] I b i d , hlm. 121 – 126.
[9] Sudjarwo, MS., Dr. H. Metodologi Penelitian Sosial, Mandiri Maju, Bandung, 2001, hlm. 51-53.
[10] Arief Furchan, Pengantar Penelitian Dalam Pendidikan, Usaha Nasional, Surabaya, 1982, h 436-438
[11] I b i d , hlm. 438
[12] Dasar-dasar Metodologi Penelitian, Universitas Negeri, Malang, http://www.infoskripsi.com/Resource/ Penelitian-Pendidikan.html
[13] I b i d ,
[14] I b i d ,

[15] I b i d ,

[16] I b i d ,

[17] I b i d ,

[18] I b i d ,

[19] I b i d ,

[20] Contoh Proposal Penelitian Deskriptif, http://www.infoskripsi.com/html - 36k -

[21] Op cit,

[22] I b i d ,

[23] I b i d ,

[24] I b i d ,

[25] I b i d ,

[26] I b i d ,

[27] I b i d ,

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar